MATERI TENTANG NIAT, SEBAGAI PEMBUKA JADWAL KULIAH SUBUH DI MASJID AT TAQWA

 Mengupas "Tombol On" Ibadah: Pujiyanto, S.E, M.M Awali Pengajian Subuh Masjid At-Taqwa Sraten dengan Materi Niat

 

SRATEN, KAB. SEMARANG – Suasana khidmat menyelimuti Masjid At-Taqwa Desa Sraten pada Kamis pagi (19/02/2026). Puluhan jamaah salat subuh, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu, tampak antusias mengikuti kegiatan perdana pengajian rutin bakda subuh yang dimulai tepat pukul 05.00 hingga 05.30 WIB.

Pada kesempatan perdana ini, Nadhir Masjid At-Taqwa, Bapak Pujiyanto, S.E, M.M, hadir sebagai pemateri pembuka. Dalam tausiyahnya, beliau mengupas tuntas urgensi "Niat" sebagai pondasi utama dalam setiap amal ibadah seorang Muslim.

Niat: Lebih dari Sekadar Ucapan
Membuka materi, Bapak Pujiyanto menjelaskan bahwa secara bahasa, niat berasal dari kata nawa yang berarti Al-Qashdu atau tujuan yang kuat. Namun, secara istilah syariat, niat didefinisikan sebagai "Menyengaja melakukan sesuatu yang dibarengi dengan perbuatannya" (Qashdu syai-in muqtarinan bi fi'lihi).

"Niat adalah 'Tombol On' dalam ibadah. Jika kita hanya berencana dalam hati untuk salat subuh besok pagi, itu baru disebut cita-cita atau azam. Namun, saat kita berdiri dan melakukan Takbiratul Ihram dengan kesadaran hati, itulah niat yang sesungguhnya," jelas beliau di hadapan para jamaah.

Fungsi Vital Niat dalam Ibadah
Dalam pengajian tersebut, dipaparkan dua tujuan utama adanya niat:

  1. Pembeda Ibadah dari Kebiasaan: Niatlah yang menyulap kegiatan fisik biasa menjadi ketaatan. Tanpa niat, sujud hanya dianggap olahraga dan menahan lapar hanya dianggap diet.

  2. Pembeda Tingkatan Ibadah: Niat memberi identitas pada perbuatan. Meski gerakannya sama-sama dua rakaat, niatlah yang menentukan apakah itu salat Subuh, Tahiyatul Masjid, atau Qabliyah.

Bapak Pujiyanto juga menekankan tiga rukun agar niat dianggap sah, yakni Qashdu (berniat melakukan), Ta’yin (menentukan jenis ibadahnya), dan Fardhiyah (menyatakan status kewajibannya).

Letak Niat dan Rahasia Keikhlasan
Menjawab pertanyaan mengenai cara pelaksanaannya, beliau menegaskan bahwa letak niat adalah di dalam hati (al-qolbu). Melafalkannya secara lisan (talaffuz) bersifat sunnah untuk membantu kemantapan hati. Waktu pelaksanaannya pun beragam, mulai dari saat membasuh wajah dalam wudhu hingga berbarengan dengan Takbiratul Ihram dalam salat.

Menutup kajiannya, Bapak Pujiyanto memberikan pesan mendalam tentang menjaga keikhlasan. Beliau mengibaratkan niat tanpa keikhlasan seperti raga tanpa nyawa.
"Ikhlas adalah memurnikan tujuan hanya untuk Allah. Jika kita beramal demi pujian manusia atau riya, kita sedang menukar pahala surga yang abadi dengan kata-kata manis manusia yang fana," tuturnya.

Beliau membagikan tips praktis menjaga keikhlasan, di antaranya dengan merahasiakan amal, memperbarui niat sebelum, saat, dan sesudah beramal, serta selalu berdoa meminta keteguhan hati dengan doa: "Ya muqallibal quluub, thabbit qalbii ‘ala diinik."

Pengajian singkat namun padat tersebut diakhiri dengan doa bersama dan ramah tamah antar jamaah. Kegiatan ini diharapkan menjadi awal yang baik untuk memperdalam pemahaman keagamaan warga Desa Sraten, khususnya jamaah Masjid At-Taqwa.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WISUDHA PERMADANI TUNTANG GETASAN

PELANTIKAN PENGURUS BADKO KECAMATAN SE KABUPATEN SEMARANG

WAKIL BUPATI SEMARANG HADIRI MUSCAM BADKO LPQ BANYUBIRU