MERAWAT TRADISI
JELANG RAMADAN, WARGA DUSUN KANDANGAN GELAR RITUAL NYADRAN DENGAN KHIDMAT
REMBES – Ratusan warga Dusun Kandangan bersama para ahli
waris dari berbagai daerah berkumpul di Kompleks Makam Dusun Kandangan, Desa
Rembes, pada Minggu (08/02/2026). Kehadiran mereka bertujuan untuk melaksanakan
tradisi tahunan "Nyadran", sebuah ritual adat dan religius sebagai
bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus penyambutan bulan suci Ramadan.
Acara yang dimulai
pukul 08.00 WIB ini dihadiri oleh tokoh masyarakat, Ketua Ranting NU Desa
Rembes, serta tamu undangan lainnya. Suasana kekeluargaan tampak kental saat
warga duduk bersama di area makam yang telah dibersihkan sebelumnya.
Rangkaian acara
diawali dengan pembukaan yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat
suci Al-Qur'an yang menambah kekhusyukan suasana di pagi yang cerah tersebut.
Kepala Dusun (Kadus)
Kandangan, Bapak Suyitno, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas
kehadiran seluruh warga, termasuk para ahli waris yang datang dari luar dusun.
“Kami mengucapkan selamat datang kepada bapak dan
ibu sekalian. Kami juga memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam
penyambutan dan penyediaan tempat terdapat kekurangan,” tutur Bapak Suyitno.
Senada dengan hal
tersebut, Pj Kepala Desa Rembes, Bapak Pujiyanto, S.E, M.M, memberikan pesan
mendalam mengenai esensi Nyadran. Beliau menekankan bahwa Nyadran bukan sekadar
ritual membersihkan makam secara fisik.
“Nyadran berasal dari kata 'Sadran' yang artinya
bersih-bersih. Namun, yang dibersihkan tidak hanya yang tampak oleh mata
seperti lingkungan makam, tetapi juga yang tidak kelihatan, yaitu hati kita.
Mari kita bersihkan hati dari penyakit iri, dengki, marah, dan rasa malas dalam
beribadah,” tegas Bapak Pujiyanto dalam sambutannya.
Memasuki acara inti,
yakni pengajian umum yang disampaikan oleh KH. Mudatsir, S.Ag, M.Si. Dalam
tausiyahnya, Kyai Mudatsir mengupas tuntas makna Nyadran sebagai sarana tazkiyatun nufus (penyucian jiwa). Beliau juga mengingatkan warga
untuk mulai mempersiapkan diri, baik fisik maupun mental, dalam menyongsong
bulan suci Ramadan yang tinggal menghitung hari.
“Nyadran adalah
momentum kita untuk mengingat kematian sekaligus menyambung silaturahmi dengan
yang masih hidup. Dengan hati yang bersih, kita akan lebih siap dan maksimal
dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan nanti,” pesan KH. Mudatsir.
Acara ditutup dengan
doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Isak tangis haru dan doa
yang tulus pun mengalir untuk para leluhur yang telah tiada. Setelah doa
selesai, warga melanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama sebagai simbol
keberkahan dan kerukunan antarwarga Dusun Kandangan.
Kegiatan Nyadran
tahun 2026 ini diharapkan tidak hanya menjadi sekadar rutinitas, tetapi menjadi
pengingat bagi masyarakat Desa Rembes untuk terus menjaga warisan leluhur dan
mempererat tali persaudaraan
Komentar
Posting Komentar